synesthesia kolektif

ketika ribuan orang merasakan warna dan suara secara bersamaan

synesthesia kolektif
I

Pernahkah kita berdiri di tengah lautan manusia dalam sebuah konser musik yang menggelegar? Bayangkan momen itu. Lampu panggung tiba-tiba mati. Kegelapan menyelimuti kita. Lalu, sebuah dentuman bass yang sangat rendah dan panjang dimainkan. Tanpa ada aba-aba, ribuan orang di ruangan itu tiba-tiba merasakan sensasi warna ungu gelap yang pekat merayap di kulit mereka. Saat nada melengking tinggi dimainkan, semua orang serentak "melihat" kilatan warna kuning cerah di dalam benak mereka. Bukan karena tata cahaya panggung, melainkan karena otak mereka menciptakannya. Bersamaan. Di detik yang sama.

Kondisi di mana indra pendengaran dan penglihatan menyatu ini dikenal sebagai synesthesia. Biasanya, fenomena neurologis ini sangat personal. Hanya dialami oleh segelintir orang yang otaknya memang memiliki "kabel silang" bawaan. Tapi, mari kita ajukan sebuah pertanyaan yang sedikit gila. Mungkinkah pengalaman sensorik yang sangat intim ini diretas? Bisakah ribuan orang secara kolektif didorong untuk merasakan warna dan suara yang persis sama, di waktu yang sama? Jawabannya bukan sekadar fiksi ilmiah. Ini sedang terjadi, dan otak kita sebenarnya sudah dirancang untuk melakukannya.

II

Mari kita mundur sejenak ke tahun 1915 di New York. Ada seorang komposer jenius bernama Alexander Scriabin. Ia adalah seorang synesthete sejati. Baginya, nada D mayor adalah warna kuning keemasan, dan nada C mayor adalah merah yang intens. Scriabin punya ambisi luar biasa. Ia ingin seluruh penontonnya merasakan apa yang ia rasakan. Ia menciptakan sebuah simfoni berjudul Prometheus: The Poem of Fire, lengkap dengan instrumen aneh bernama clavier à lumières—sebuah organ yang tidak memancarkan suara, melainkan menembakkan warna ke dinding gedung konser.

Scriabin percaya bahwa jika ia menyinkronkan nada dan warna dengan tepat, ia bisa memicu ekstase massal. Sayangnya, teknologi saat itu belum cukup mumpuni, dan penonton hanya merasa kebingungan. Eksperimen itu dianggap gagal. Namun, secara psikologis dan neurologis, Scriabin sebenarnya menyentuh sebuah konsep yang sangat purba. Teman-teman, kita sering merasa bahwa isi kepala kita adalah ruang tertutup yang tidak bisa diakses orang lain. Kita merasa cara kita melihat dunia adalah eksklusif milik kita. Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, fondasi persepsi kita sangatlah seragam. Ada sebuah tombol rahasia di dalam otak manusia, yang jika ditekan bersamaan, akan meruntuhkan batas antara "saya" dan "kita".

III

Untuk memahami bagaimana ribuan orang bisa mengalami halusinasi sensorik yang seragam, kita harus menguji otak kita sendiri. Pernahkah kita mendengar eksperimen Bouba dan Kiki? Bayangkan dua buah bentuk geometris. Satu bentuknya bulat, melengkung, dan menyerupai awan. Satu lagi bentuknya tajam, bersudut-sudut, seperti pecahan kaca. Jika saya meminta teman-teman menebak, mana yang bernama "Bouba" dan mana yang "Kiki"?

Hampir 95 persen manusia di seluruh dunia, terlepas dari bahasa dan budayanya, akan sepakat bahwa bentuk bulat adalah Bouba, dan bentuk tajam adalah Kiki. Kenapa? Karena otak kita secara inheren memetakan suara yang membulat (Bouba) dengan visual yang melengkung. Fenomena ini disebut cross-modal correspondence. Ini adalah bukti nyata bahwa kita semua memiliki "bibit" synesthesia di dalam otak kita. Kita semua diam-diam sepakat bahwa nada rendah itu "gelap" dan nada tinggi itu "terang". Lalu, apa jadinya jika bibit ini disiram dengan stimulus ekstrem di sebuah ruangan yang berisi puluhan ribu orang? Bagaimana sains menjelaskan fenomena merinding massal yang membuat batas fisik tubuh kita seolah lenyap?

IV

Inilah momen di mana sains memberikan jawaban yang jauh lebih ajaib daripada sihir. Ketika ribuan orang berkumpul, mendengarkan dentuman ritme yang persis sama, dan melihat kilatan visual yang sinkron, otak kita mengalami fenomena yang disebut neural entrainment. Gelombang otak puluhan ribu manusia itu, secara harfiah, mulai berdetak pada frekuensi yang sama. Ini bukan metafora puitis. Alat pemindai EEG menunjukkan bahwa dalam kerumunan yang terfokus pada satu ritme, aktivitas listrik di otak mereka menjadi selaras.

Ketika gelombang otak kita sudah "terkunci" satu sama lain, mirror neurons atau neuron cermin di otak kita mengambil alih. Neuron inilah yang membuat kita bisa berempati; membuat kita tersenyum saat melihat orang tersenyum, atau meringis saat melihat orang terjatuh. Dalam kondisi sinkronisasi massal, sistem saraf kita menjadi hiper-reaktif. Batas antara input sensorik (suara dari speaker) dan persepsi visual (warna yang diproyeksikan) melebur karena kelebihan beban kognitif. Kita tidak lagi hanya mendengar musik atau melihat cahaya. Otak kita secara kolektif menggabungkan kedua stimulus itu untuk menghemat energi pemrosesan. Jadi, ketika satu orang mulai merasakan bass yang menggetarkan dada itu sebagai warna ungu gelap—karena dorongan cross-modal purba tadi—gelombang otak dan neuron cermin yang sinkron menularkan sensasi itu seperti efek domino neurologis. Ribuan orang akhirnya merasakan synesthesia kolektif. Sebuah peleburan massal antara suara, warna, dan kesadaran.

V

Ahli sosiologi Émile Durkheim menyebut momen peleburan semacam ini sebagai collective effervescence atau gejolak kolektif. Ini adalah alasan mengapa manusia purba menari mengelilingi api unggun sambil memukul genderang, dan mengapa manusia modern membayar mahal untuk berdiri berdesakan di festival musik elektronik atau ritual keagamaan yang megah. Kita secara evolusioner merindukan momen di mana kita berhenti menjadi individu yang kesepian.

Pada akhirnya, fenomena synesthesia massal ini mengajarkan kita satu hal yang sangat indah. Di tengah dunia yang sering kali membuat kita merasa terisolasi, terasing, dan berbeda satu sama lain, biologi kita bercerita sebaliknya. Otak kita dirancang untuk terhubung. Kesadaran kita, sensasi kita, bahkan cara kita melihat warna dan mendengar suara, nyatanya bisa melebur menjadi satu pengalaman yang utuh bersama ribuan orang tak dikenal. Teman-teman, mungkin kita memang tidak pernah benar-benar sendirian di dalam kepala kita sendiri. Sesekali, kita hanya butuh ritme dan warna yang tepat untuk mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari satu kesadaran yang jauh lebih besar.